Thursday, May 22, 2014

Faktor Genetis Pengaruhi Selera Konsumen

Selera konsumen terhadap sesuatu ternyata bersifat genetis. “Apakah Anda suka fiksi ilmiah, mobil hibrida, musik jazz, mustard, opera, dan cokelat hitam, itu semua memiliki komponen genetis,” Aner Sela memaparkan hasil penelitiannya. Asisten profesor bidang pemasaran di University of Florida tersebut memublikasikan hasil penelitiannya dalam "Journal of Consumer Research" edisi April 2011. “Di sisi lain, kami tidak menemukan efek serupa pada seni abstrak, seni tindik tubuh, dan cilantro, yang bisa dibenci atau disukai orang.” Sementara itu, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ditemukan pengaruh turunan dalam hal kecerdasan, kepribadian, dan bahkan perceraian, kecanduan obat-obatan dan pola pemilihan umum, ini merupakan penelitian pertama yang menunjukkan bahwa genetika memberi pengaruh dalam pilihan konsumen, lanjut Sela. “Menarik untuk diketahui bahwa banyak yang kita lakukan dan kita hendaki sebenarnya berakar dari nenek moyang kita,” jelas Sela. Sela dan Itamar Simonson, profesor marketing di Stanford University, melakukan survei terhadap 110 pasang kembar identik dan kembar paternal berjenis kelamin sama tentang kecenderungan produk yang disukai dan pola belanja mereka, seperti apakah mereka lebih memilih untuk membelanjakan uang demi barang kebutuhan sehari-hari atau untuk menjalani perawatan spa mewah. Pilihan yang sama lebih umum ditemukan dalam pasangan kembar identik yang kode genetikanya identik daripada pada kembar paternal yang memiliki lingkungan tempat tinggal yang serupa tetapi hanya memiliki setengah DNA yang sama. Temuan bahwa selera konsumen sering ditentukan oleh faktor bawaan menyiratkan bahwa perusahaan bisa mengetahui lebih baik mengenai bagaimana melayani konsumen dalam menyatakan kecenderungan ekspresifnya dan kemudian bereaksi dengan produk tertentu daripada mengandalkan taktik pasar agar bisa mengubah perilaku konsumen. “Penelitian konsumen sering menunjukkan bahwa konsumen berperilaku secara irasional dan memilih dengan pola yang acak,” katanya. “Meskipun terkadang simpulan ini benar, kami menunjukkan bahwa orang tidak hanya seperti domba yang hanya bisa menjadi subjek dari pengaruh manipulatif orang lain tetapi sebenarnya telah memiliki suatu kualitas kepribadian yang menentukan proses pembuatan keputusan, kecenderungan bawaan dan kegemaran sejak lahir.” Temuan tersebut menyiratkan bahwa kecenderungan dalam memilih yang kurang masuk akal bisa jadi berakar dari kecenderungan genetis. Di luar kesukaan dan ketidaksukaan produk tertentu, terdapat basis genetis untuk memilih sebuah kompromi atau opsi tengah, memilih antara sebuah kepastian dan perjudian yang penuh risiko. (*/Akhlis)

No comments:

Post a Comment