KUDUS, suaramerdeka.com - Persaingan bisnis kuliner memang tidak pernah ada matinya, dan untuk mempertahankannya pemilik usaha tak jarang harus melakukan berbagai inovasi agar bisa menarik minat pembeli.
Hal ini tidak hanya berlaku bagi kuliner di kelas - kelas tertentu saja melainkan semuanya.
Salah satu pengusaha kuliner yang memilki warung makan di Jalan Wahid Hasyim Kudus bernama Yudhi Ms mengaku, kuliner yang ia jual berupa masakan rumahan tampaknya masih memiliki prospek yang bagus.
"Persaingan pasti ada, dan lagi - lagi taste atau rasa biar konsumen yang memiliki, yang pasti kami memiliki moto untuk mengedepankan soal kualitas, baik rasa, penyajian hingga pelayanannya," katanya.
Ia juga mengaku memang di Kudus ini setidaknya ada ribuan warung makan yang menyajikan kuliner baik yang berbau barat maupun lokal, bahkan lokal sekalipun. "Jika kami suruh memiliki kami tetap mengedepankan rasa yang khas dan sedikit inovasi agar bisa mendongkrak minat beli konsumen," ujar pemilik warung makan Ayam Goreng Laras itu.
Mengenai harga ia menyebutkan cukup terjangkau, mulai dari Rp 5.000 sampai dengan Rp 7.000 per porsi. "Ini dimaksudkan agar seluruh segmen bisa menjangkaunya, sehingga produk yang dijual bisa banyak dikenal dan dinikmati," terangnya.
Hal senada dikatkan oleh Faiz pengelola warung makan di Desa Panjunan, Kecamatan Kota, menurutnya jika dibandingkan kuliner waralaba, ia mengaku tidak gentar karena baik atau tidak kualitas kuliner tersebut kembali pada soal proses pembuatannya.
"Apakah juga mengunakan bahan yang bagus dan dikelola dengan profesional, yang pasti jika dilakukan dengan sungguh - sungguh maka hasilnya maksimal dan disukai konsumen," terangnya.
Mengenai prospek bisnis kuliner masakan rumahan, ia mengaku setidaknya sampai dengan sepuluh tahun eksistensinya masih cukup bagus. "Asalkan dikelola dengan profesional," katanya.
No comments:
Post a Comment