Banyak pasangan sahabat yang memutuskan untuk bergabung dan menjalankan suatu bisnis bersama-sama. Alasannya sangat masuk akal. Merasa sudah sangat cocok sebagai teman, pasangan sahabat ini berpikir mereka juga akan secara otomatis cocok sebagai mitra bisnis.
Ternyata pemikiran ini tidak selalu benar. Sebab, tidak semua sahabat bisa Anda ajak kerja sama dalam bisnis. Persahabatan dan bisnis adalah dua hal yang benar-benar berbeda. Seperti yang sudah kita ketahui, uang memang berpotensi menjadi pemicu konflik.
Tujuan berbisnis adalah untuk mendapatkan keuntungan, tapi bila ini tidak terjadi, kedua orang ini bisa berselisih paham. Apalagi kalau salah satu pihak merasa dicurangi. Sebelum mengajak teman untuk bergabung dalam bisnis, perlu pemikiran lebih mendalam. Di bawah ini adalah beberapa faktor yang bisa Anda jadikan pertimbangan:
1. Jenis usaha
Sebenarnya semua jenis usaha bisa dilakukan bersama mitra kerja. Tidak ada batasan mengenai usaha apa yang semestinya dikerjakan sendiri dan yang dijalankan bersama orang lain. Mau berjualan tanaman atau berdagang pakaian, boleh saja. Apabila ukuran bisnisnya masih terlalu kecil, mungkin lebih baik Anda menjalaninya sendiri terlebih dulu. Apalagi jika jumlah pesanan masih sangat sedikit.
2. Jumlah mitra
Bagi pemula, jumlah mitra sebaiknya tidak lebih dari tiga orang. Kalau jumlahnya lebih dari tiga, pembagian tugas bisa jadi sulit.
3. Minat
Akan sangat baik bila teman yang Anda ajak bergabung memiliki minat yang sama dengan Anda. Ia pun akan menjalani bisnis dengan penuh antusiasme dan tidak merasa terbebani. Kalaupun minatnya berbeda, setidaknya ia mempunyai pengetahuan mengenai usaha yang akan dijalankan. Jangan memilih mitra yang tidak tahu apa-apa tentang bisnis tersebut.
4. Pemisahan urusan kerja dari pribadi
Tanyakan hal ini pada diri Anda sendiri, "Bisakah saya membedakan mana yang urusan pekerjaan, dan mana yang murni urusan pribadi?" Banyak masalah usaha timbul karena orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak mampu memilah-milah dua hal ini. Mereka akhirnya saling menyerang aspek-aspek kehidupan pribadi dan tidak mengacu pada masalah pekerjaan yang sebenarnya.
5. Pembagian tugas
Tentukan siapa yang menangani bagian apa. Sebaiknya kedua-duanya tidak menangani bagian yang sama karena akan tumpang-tindih dan terjadi kesalahpahaman. Bicarakan hal ini sejak awal dengan sang sahabat. Kebanyakan pasangan bisnis bergabung karena mereka memiliki kelebihan yang tidak dipunyai temannya. Jadi mereka saling melengkapi. Kalau lebih jago di lapangan dan supel menghadapi orang, mungkin Anda bisa mencari mitra yang bisa menangani urusan dari balik meja, misalnya soal administrasi. Pembagian ini juga berlaku dalam hal dana. Mitra bisa jadi adalah orang yang menyuntikkan modal dalam nadi usaha Anda. Atau sebaliknya, Anda memiliki modal, tapi tidak punya orang untuk menjalankannya.
6. Tentukan siapa bosnya
Tidak bisa dua orang menjadi pemimpin pada saat yang bersamaan. Harus dipilih satu orang untuk menjadi pemimpin. Kalau dua-duanya ngotot jadi pimpinan, suasana bisa tegang. Anda dan teman harus menentukan siapa yang menjadi direktur, dan siapa yang menjadi wakil direktur. Tempatkan ego Anda berdua di bawah kepentingan usaha. Setelah itu, komunikasikan hal ini kepada karyawan dan klien.
7. Pembagian keuntungan
Inilah salah satu isu paling sensitif dalam dunia usaha. Besarnya keuntungan yang dibagi harus benar-benar dipahami dan disepakati di awal. Kalau tidak tercapai kesepakatan, lupakan saja rencana ini.
Ternyata pemikiran ini tidak selalu benar. Sebab, tidak semua sahabat bisa Anda ajak kerja sama dalam bisnis. Persahabatan dan bisnis adalah dua hal yang benar-benar berbeda. Seperti yang sudah kita ketahui, uang memang berpotensi menjadi pemicu konflik.
Tujuan berbisnis adalah untuk mendapatkan keuntungan, tapi bila ini tidak terjadi, kedua orang ini bisa berselisih paham. Apalagi kalau salah satu pihak merasa dicurangi. Sebelum mengajak teman untuk bergabung dalam bisnis, perlu pemikiran lebih mendalam. Di bawah ini adalah beberapa faktor yang bisa Anda jadikan pertimbangan:
1. Jenis usaha
Sebenarnya semua jenis usaha bisa dilakukan bersama mitra kerja. Tidak ada batasan mengenai usaha apa yang semestinya dikerjakan sendiri dan yang dijalankan bersama orang lain. Mau berjualan tanaman atau berdagang pakaian, boleh saja. Apabila ukuran bisnisnya masih terlalu kecil, mungkin lebih baik Anda menjalaninya sendiri terlebih dulu. Apalagi jika jumlah pesanan masih sangat sedikit.
2. Jumlah mitra
Bagi pemula, jumlah mitra sebaiknya tidak lebih dari tiga orang. Kalau jumlahnya lebih dari tiga, pembagian tugas bisa jadi sulit.
3. Minat
Akan sangat baik bila teman yang Anda ajak bergabung memiliki minat yang sama dengan Anda. Ia pun akan menjalani bisnis dengan penuh antusiasme dan tidak merasa terbebani. Kalaupun minatnya berbeda, setidaknya ia mempunyai pengetahuan mengenai usaha yang akan dijalankan. Jangan memilih mitra yang tidak tahu apa-apa tentang bisnis tersebut.
4. Pemisahan urusan kerja dari pribadi
Tanyakan hal ini pada diri Anda sendiri, "Bisakah saya membedakan mana yang urusan pekerjaan, dan mana yang murni urusan pribadi?" Banyak masalah usaha timbul karena orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak mampu memilah-milah dua hal ini. Mereka akhirnya saling menyerang aspek-aspek kehidupan pribadi dan tidak mengacu pada masalah pekerjaan yang sebenarnya.
5. Pembagian tugas
Tentukan siapa yang menangani bagian apa. Sebaiknya kedua-duanya tidak menangani bagian yang sama karena akan tumpang-tindih dan terjadi kesalahpahaman. Bicarakan hal ini sejak awal dengan sang sahabat. Kebanyakan pasangan bisnis bergabung karena mereka memiliki kelebihan yang tidak dipunyai temannya. Jadi mereka saling melengkapi. Kalau lebih jago di lapangan dan supel menghadapi orang, mungkin Anda bisa mencari mitra yang bisa menangani urusan dari balik meja, misalnya soal administrasi. Pembagian ini juga berlaku dalam hal dana. Mitra bisa jadi adalah orang yang menyuntikkan modal dalam nadi usaha Anda. Atau sebaliknya, Anda memiliki modal, tapi tidak punya orang untuk menjalankannya.
6. Tentukan siapa bosnya
Tidak bisa dua orang menjadi pemimpin pada saat yang bersamaan. Harus dipilih satu orang untuk menjadi pemimpin. Kalau dua-duanya ngotot jadi pimpinan, suasana bisa tegang. Anda dan teman harus menentukan siapa yang menjadi direktur, dan siapa yang menjadi wakil direktur. Tempatkan ego Anda berdua di bawah kepentingan usaha. Setelah itu, komunikasikan hal ini kepada karyawan dan klien.
7. Pembagian keuntungan
Inilah salah satu isu paling sensitif dalam dunia usaha. Besarnya keuntungan yang dibagi harus benar-benar dipahami dan disepakati di awal. Kalau tidak tercapai kesepakatan, lupakan saja rencana ini.
No comments:
Post a Comment